Sinyal Analog Vs Digital

Apa yang terbersit dalam pikiran anda ketika mendengar dua kata tersebut? Kebanyakan dari kita akan langsung membayangkan bahwa digital itu terkesan canggih, komponen-komponen elektronik dengan IC dan perangkat berupa tombol-tombol dan display terkini. Sedangkan analog adalah terkesan jadul, gak canggih dan berupa instrumen atau gauge dengan jarum.Lalu ketika diberikan contoh komponen seperti toggle switch atau saklar lampu rumah, maka seketika anda akan berasumsi bahwa komponen tersebut adalah komponen analog. Sedangkan ketika diberikan komponen IC anda akan menyampaikan bahwa itu adalah komponen digital. Betulkan seperti itu?

Lalu benarkah asumsi tersebut? Mari kita bahas mengenai sinyal digital dan sinyal analog.

Sinyal digital adalah sinyal atau besaran listrik yang hanya memiliki dua status atau dua nilai yaitu nilai tertentu dan nilai nol. Atau dengan kata lain ON dan OFF, atau dapat didefinisikan sebagai nilai 1 (satu) dan 0 (nol). Sebagai contoh, sebuah komponen menghasilkan output 0 volt saat off dan 5 volt saat on, maka komponen tersebut menghasilkan sinyal digital.

Sedangkan sinyal analog adalah besaran listrik yang memiliki rentang nilai dalam satu satuan waktu. Sebagai contoh, sebuah komponen dapat menghasilkan tegangan dari 0 hingga 24 volt. Maka sinyal output tersebut adalah sinyal analog. Jadi dalam waktu tertentu, nilai tegangan bisa sebesar 5 volt, lalu 7 volt, 12 volt kemudian turun ke 10 volt dan seterusnya.

Jadi jelas sekali bahwa sinyal digital hanya memiliki hanya dua nilai sedangkan sinyal analog memiliki rentang nilai. Secara mudah, sinyal analog dan sinyal digital dapat digambarkan seperti ilustrasi di bawah ini:

Setelah mengetahui perbedaan jenis sinyal di atas, maka kita tahu jenis sinyal apa yang dihasilkan oleh sebuah toggle switch. Switch ini menghasilkan sinyal digital bukan? Karena yang outputnya hanya OFF (0 Volt) dan ON (24 Volt misalnya).

Dan sinyal apa yang dihasilkan oleh rheostat atau potensiometer? Apakah sinyal analog? Tentu ya, karena potensiometer dapat mengatur arus atau tegangan yang nilainya berbeda sesuai dengan posisi brush pada carbon resistor di dalamnya sehingga tidak hanya menghasilkan kondisi on dan off, tetapi mempunyai rentang nilai yang cukup luas dalam batasan tertentu.

Semoga sedikit membantu dan silakan berkomentar, bertanya dan berdiskusi. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: